Derita dan Harapan Remaja asal Bandung
Kamis, 4 Mar 2010 09:30:01
Pdpersi, Bandung - “Dini Nggak Kuat Diejek Temen-temen”
Remaja di Bandung ini mengalami nasib serupa dengan pasien yang menjalani operasi face off di RS dr Soetomo Surabaya. Dia pun berharap mendapat kesempatan yang sama.
Dikala anak-anak seusianya asyik bermain dengan teman-teman sebayanya, Dini Setia Utami (13) mengurung diri di rumah. Wajahnya yang rusak akibat luka bakar membuatnya malu bergaul dengan teman-teman sebayanya.
Bukan hanya wajahnya saja yang rusak, dada, dan sebagian punggungnya juga mengalami luka bakar. Dan bekas luka bakar itu menimbulkan keloid dan pereketan yang parah di lengan kanan dan lehernya.
Penderitaannya tak hanya itu. Suaranya pun menjadi parau karena pita suaranya rusak akibat saat kejadian terlalu banyak mengisap asap panas (trauma inhalasi).
Dini haya ingin operasi wajah kayak yang di Surabaya. Dini nggak kuat diejek temen-temen, pinta Dini memelas. Dini ingin dioperasi, ketika melihat tayangan operasi face off di RS dr Soetomo Surabaya di televise. Dini nggak takut di operasi, biar sakitnya seapapun, ucap Dini yang tak pernah mengenyam bangku sekolah ini.
Akibat luka bakarnya yang terjadi pada tahun 1996 lalu, remaja kelahiran Bandung, 24 Juni 1993 ini memang tak pernah sekolah. Rasa malunya membuat dia mengurung diri di rumah.
Transmigrasi
Diungkapkan Lilis ibunda Dini, peristiwa yang menghancurkan masa depan anaknya terjadi di daerah transmigrasi Kabaena, Sulawesi Tenggara.
Awal tahun 1996, Lilis dan suaminya, Surahmat yang asli Bandung mengikuti program transmigrasi pemerintah. Pasangan ini berharap di tanah rantau nanti mendapatkan penghidupan yang lebih layak.
Sebelum transmigrasi, pekerjaan suami saya hanya pengayuh becak. Di Bandung, kami tinggal berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Makanya, kami nekat transmigrasi. Apalagi saat itu anak kami sudah tiga. Dini adalah yang bungsu, terang Lilis.
Setiba di daerah transmigrasi, mereka pun mendapatkan rumah sederhana dan lahan seluas 200 meter persegi. Tapi, rumah yang mereka tempati belum tersedia aliran listrik. Untuk penerangan di malam hari, kami memakai lampu petromak, imbuh Surahmat yang mendampingi istrinya.
Hari demi hari dilalui Surahmat dan istrinya penuh pengharapan. Hingga suatu hari pada pertengahan tahun 1996 petaka itu terjadi. Saya tak ingat bulan dan harinya, pokoknya sekitar pertengahan tahun 1996. Selepas maghrib, tiba-tiba lampu petromak yang menempel di dinding rumah meledak, terang Lilis.
Api pun langsung melahap dinding rumah yang terbuat dari kayu. Saat itu Lilis berada di ruang tamu bersama dua anaknya, Dini dan Jajat. Sedang suaminya berada di luar rumah menghadiri kondangan bersama si sulung, Sri Lestari.
Karena api cepat membesar, Lilis tak sempat menyelamatkna kedua anaknya, kejadiannya begitu cepat. Mereka langsung terbakar. Bajunya sampai hangus, tutur Lilis. Untungnya, warga sekitar yang belum terlelap tidur segera berdatangan. Mereka pun segera ibu dan 2 anaknya itu dari dalam rumah.
Saat dilarikan ke Puskesmas kedua anak saya itu tak sadarkan diri. Sedang istri saya hanya mengalami luka bakar ringan dibagian kaki, terang Surahmat, yang tiba beberapa saat setelah istri dan kedua anknya berhasil dikeluarkan dari dalam rumah.
Karena luka bakarnya cukup parah, esoknya, Dini dan kakaknya dirujuk ke rumah sakit kota Kendari. Sayang, kaka Dini tak tertolong. Dini sendiri hampir 3 bulan tak sadarkan diri. Untunglah pemerintah propinsi Sulawesi Tenggara mau membiayai biaya rumah sakitnya. Malah, berniat mengirim Dini ke RSCM Jakarta untuk menjalani bedah plastic. Tepatnya tahun 1997, Dini dibawa ke RSCM Jakarta.
Namun, baru sekali menjalani operasi plastic bantuan itu terhenti tanpa alasan yang jelas. Surahmat sendiri sempat menanyakan dihentikannya bantuan itu, tapi selalu mendapat jawab yang tak jelas. Karena tak punya biaya, akhirnya Surahmat membawa anaknya pulang. Tahun berganti, Dini pun bertambah usia. Sekitar tahun 1998, Surahmat kembali lagi ke Bandung. Kami pulang ke Bandung karena harta benda suda ludes.
Di Bandung, mereka pun menempit rumah kontrakan sempit di Hegermanah. Rumah sempit berisi tiga ruangan ini tiap bulannya harus di bayar Rp. 100 ribu. Surahmat yang saat itu bekerja sebagai Satpam sanggup untuk menghidupi keluarganya. Tapi sekarang Surahmat diberhentikan dan harus menganggur. Giliran Lilis yang banting tulang.
Sebagai buruh cuci, Lilis hanya mendapatkan upah sebesar Rp 200 ribu. Awal-awal tinggal di Bandung, Dini masih berani bermain di luar rumah. Namun lama-lama timbul rasa mindernya. Karena, teman-teman sebaya mulai mengejek. Dinipun juga enggan sekolah. “Dini gak mau sekolah karena malu. Dikatakan Lilis, sampai sekarang, rasa gatal masih menyerang Dini dari bekas luka bakarnya. Kalau malam suka gatal-gata;. Tapi kalau sudah ditaburi bedak salycil gatalnya hilang, tanah Lilis.br>
Tulis Surat
Layaknya anak seusianya, Dini juga mempunyai artis pujaan. Dan artis pujaan itu adalah Ariel Peterpan. Karena kecintaan terhadap artis pujaan ini, Dini menitipkan salam dan surat untuk Ariel. Dia ngefans sama Ariel Peterpan, tolong salamin ya sama Ariel. Dini juga mau kasih surat untuk dokter di Surabaya kalau Dini pengin di operasi juga, harap Dini.
Dini yang meminta kertas dan pena langsung menggerakkan tangan kanannya. Walau sulit menggerakkan tangan kanannya, Dini ingin membuktikan kalau dirinya sama seperti teman-temannya yang lain bisa menulis dan membaca.
Tulisan yang dibuatnya berbunyi : nama Dini Setia Utami Salam buat Ariel Peterpan Dini pengen ketemu, buat dokter di Surabaya Dini ingin dioperasi pingin sembuh seperti dulu.
Tolong ya kak sampaikan salam buat Ariel sama dokter di Surabaya, pinta Dini yang diajari membaca dan menulis oleh orang tuanya.
Narasumber : Tabloid Nyata