|
|
 |
|
|
 |
| |
Ancaman "The silent Killer"
Selasa, 15 Dec 2009 09:08:46
Pdpersi, Jakarta - Pengantar
Stroke adalah penyebab kecacatan nomor satu dan penyebab kematian nomor tiga (setelah penyakit jantung dan kanker) di seluruh dunia. Stroke memberikan beban kesehatan yang sangat besar bagi penyandangnya dan juga keluarganya. Beban ekonomi yang ditimbulkan akibat stroke juga sedemikian beratnya.
Hipertensi merupakan faktor risiko stroke yang paling utama dan konsisten. Hipertensi merupakan salah satu penyakit utama di dunia, mengenai hampir 50 juta orang di Amerika Serikat, dan hampir 1 milliar orang di seluruh dunia. Prevalensi hipertensi meningkat, sesuai peningkatan usia. Seseorang disebut mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg, atau lebih dari 135/85 mgHg pada individu yang mengalami gagal jantung, insufisiensi ginjal, atau diabetes melitus. Hipertensi merupakan faktor risiko stroke dan penyakit jantung koroner yang paling konsisten dan penting. Hipertensi meningkatkan risiko stroke 2-4 kali lipat, tidak tergantung pada faktor risiko lainnya.
Hipertensi sebagai the silent killer
Selame lebih dari tiga dekade berbagai perhimpunan profesi kesehatan di seluruh dunia (termasuk di Indonesia) bekerja keras untuk meningkatakn program pencegahan dan penatalaksanaan hipertensi yang lebih optimal. Usaha keras ini disertai dengan kampanye kepada masyarakat untuk lebih mewaspadai munculnya hipertensi. Kampanye kewaspadaan terhadap hipertensi sampai saat ini masih merupakan tantangan yang besar. Hal ini terutama adalah karena hipertensi tidaklah menimbulkan gejala/ keluhan. Keluhan muncul bila telah terjadi kerusakan target organ, dan bila hal itu telah terjadi pada umumnya kita telah terlambat satu langkah dalam penatalaksanaan hipertensi.
Penelitian epidemiologi skala besar memperkirakan bahwa jumlah penderita hipertesni di seluruh dunia adalah mencapai 1 miliar orang, dengan angka kematian akibat penyakit yang terkait dengan hipertensi mencapai 7,1 juta kematian pertahunnya adalah akibat penyakit yang terkait dengan hipertensi (misalnya stroke dan penyakit jantung). Jumlah ini sangat besar, dan memberikan beban sakit yang besar bagi masyarakat.
Pertanyaan yang menarik adalah "mengapa hipertensi masih menjadi masalah kesehatan yang besar bahkan sampai saat ini?" Salah satu alternatif jawaban adalah karena hipertensi tidak memberikan gejala yang khas atau tidak bergejala. Kondisi inilah yang disebut sebagai "the silent killer", atau si pembunuh diam-diam. Data badan kesehatan dunia/ WHO memperlihatkan bahwa hipertensi bertanggung jawab atas 62% kejadian stroke, dan 49% kejadian penyakit jantung iskemik. Tidak terkendalinya tekanan darah secara baik pada seorang penderita hipertensi juga merupakan masalah yang sangat besar. Dalam praktek seringkali dijumpai seseoang yang tahu bahwa dirinya menderita hipertensi, namun tidak kontrol dan tidak berobat. Bila ditanya alasannya pun sama "selama ini merasa baik-baik saja kok, tidak ada keluhan". Tekanan darah yang tinggi tidak akan memberikan keluhan yang spesifik, namun merusak organ taregt. Jantung bekerja lebih keras, pembuluh darah menjadi keras dan menyempit. Bila bergabung dengan berbagai faktor lain (diabetes, hiperlipidemia, mrokok) akan memacu timbulnya plak. Plak akan menyempitkan pembuluh darah. Pada suatu titik kritis pembuluh darah akan tersumbat oeh karena lepas (ruptur) dari plak. Bila pembuluh darah di otak yang tersumbat terjadilah stroke.
Analisis situasi hipertensi di masyarakat
Kesadaran dan pengetahuan mengenai hipertensi di masyarakat sudah menunjukkan peningkatan, tetapi jumlah penderita yang mendapat terapi dan terkontrol masih rendah. Sebagai contoh di Amerika Serikat pada tahun 2000, angka awareness sudah mencapai 70%, jumlah pasien yang diterapi sebanyak 55%, namun hipertensi yang terkontrol hanya sebesar 30%. Data yang tersedia di Indonesia dari penelitian di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta, pada tahun 2006, menyatakan kesadaran akan hipertensi sebesar 50%, angka pasien yang minum obat 50%, sedangkan hipertensi terkontrol 50%. Ada 3 masalah utama dalam pengelolaan hipertensi, yaitu:
- Hipertensi tidak terdeteksi
Hipertensi adalah penyakit yang tidak bergejala. Dalam sebuah bakti sosial kesehatan yang penulis ikuti tampak jelas bahwa hipertensi belum terdeteksi secara optimal. Sebanyak 45 dari 93 masyarakat yang datang memeriksakan diri memiliki tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg (sudah dikategorikan sebagai hipertensi grade 1), namun hanya 21 orang saja yang tahu menderita hipertensi. Hal ini berarti bahwa hanya kurang lebih 50% saja penderita hipertensi yang tahu bahwa dirinya menderita hipertensi. Fenomena diatas sangat dapat dipahami karena hipertensi tidak menimbulkan keluhan apapun. Fenomena ini yang mendasari hipertensi disebut sebagai "the silent killer", si pembunuh diam-diam. Pasien datang berobat akibat kerusakan target organ. Pasien datang berobat dalam tahap lanjut komplikasi, sperti gagal jantung, gagal ginjal, kerusakan retina mata akibat hipertensi, atau stroke.
Penelitian skala besar di Singapura pada lebih dari 10.000 subyek berusia > 65 tahun (yang tidak diketahui menderita hipertensi) menunjukkan bahwa hipertensi yang tidak terdeteksi mencapai 46,8%. Diantara kasus yang baru diketahui menderita hipertensi, 6% diantaranya telah menunjukkan gejala kerusakan ginjal (ditemukannya proterin di dalam kencing). Usia tua, jenis kelamin laki-laki, diabetes, dan IMB > 23 kg/ m2 dihubungkan dengan kejadian hipertensi yang lebih tinggi.
- Hipertensi terdeteksi, tapi tidak berobat
Hipertensi tidak menimbulkan gejala. Hal ini menyebabkan kesadaran seorang penderita untuk berobat menjadi kurang. Seseorang boleh saja tahu bahwa dirinya menderita hipertensi, namun tidak memeriksakan dirinya secara teratur. Fenomena ini diperparah oleh berbagai "mitos" di masyarakat tentang tekanan darah tinggi. Seorang pasien hipertensi sering kali berkata dengan bangga "tekanan darah saya 180 mmHg, namun tidak ada keluhan apa-apa". Ungkapan lain yang sering pula kita dengar adalah "wajar bila sudah tua tekanan darahnya diatas 160 mmHg". Berbagai mitos diatas adalah salah. Kerusakan pembuluh darah akan berjalan terus bila tekanan darah tidak dikendalikan. Pada penderita yang berobat, maka kepatuhan (compliance) terhadap gaya hidup dan program pengobatan juga menjadi masalah. Pasien seringkali melanggar pantangan diet, minum obat tidak teratur, atau tidak berobat secara teratur. Kemajuan ilmu medis telah menghasilkan obat anti hipertnsi yang memiliki sifat kerja panjang (long acting), sehingga hanya perlu diminum sekali dalam sehari. Hal ini tentu akan meningkatkan kepatuhan penderita. Obat-obat tersebut memiliki harga yang sedikit lebih mahal daripada obat konvensional. Faktor harga harus diperhatikan benar dalam terapi hipertensi. Pasien akan berobat dalam jangka waktu yang lama, sehingga pembiayaan akan menjadi pertimbangan yang tidak boleh diabaikan.
- Pasien berobat, tapi tidak terkontrol
Terapi hipertensi saat ini memang telah mengalami kemajuan, tetapi manajemen baru dirasa masih diperlukan karena target tekanan darah yang harus dicapai makin rendah dan terdapat beberapa obat yang ternyata tidak dapat dipakai secara bersamaan dengan obat lain yang mempunyai efek menurunkan tekanan darah. Target pengobatan hipertensi menurut WHO/ISH 1999/2003, JNC VII, dan ESH 2007 hampir sama yaitu untuk pasien berisiko tinggi adalah < 130/80 mmHg, sedangkan untuk pasien berisiko rendah target penurunannya adalah <140/90 mmHg. Laporan dari banyak penelitian tentang obat hipertensi gagal untuk mencapai tekanan darah sistolik <130 mmHg seperti yang diharapkan oleh JNC VII. Kerusakan organ target akan terus berlanjut jika kita gagal mencapai target kendali yang kita sepakati (berdasarkan JNC VII adalah dibawah 140/80 mmHg dan lebih rendah lagi kalau didapatkan faktor risiko lainnya).
Apa yang dapat saya lakukan?
Tanggal 29 Oktober setiap tahunnya diperingati sebagai hari stroke sedunia. Hari stroke sedunia adalah suatu hari dengan pesan setiap hari "stroke dapat dicegah, dan stroke dapat diobati". Pencegahan stroke dimulai dengan mengaetahui faktor risiko stroke. Pengendalian terhadap berbagai faktor risiko stroke (misalnya: hipertensi, diabetes, merokok, kadar kolesterol yang tinggi, dan kegemukan) akan menurunkan terjadinya stroke.
Masyarakat harus lebih peduli tetang faktor risiko stroke. Tanyakan pada diri anda dan orang-orang terdekat anda "apakah sudah tahu tekaanan darahnya minggu ini?" Bila belum ukurlah tekanan darah anda, dan bila tinggi lakukanlah segera intervensi untuk menurunkan tekanan darah tersebut. Lakukan hal serupa untuk kadar gula darah dan kolesterol. Ingatkan diri anda dan orang-orang terdekat anda untuk berhenti merokok. Keberhasilan penanganan faktor risiko stroke akan tergantung dari kerjasama pasien, keluarga, dan petugas medis. Mari menyambut hari stroke sedunia, dengan sebuah harapan "akan semakin baiknya pelayanan stroke di Indonesia".
Rizaldy Pinzon, dr, MKes, SpS |
|
|
|
 |
|
| |
 |
| |
|
 |
| |
 |
| |
(dr. Ferry A. Firdaus Mansoer, MM, SpOG.) |
(dr. Rudi Hartono, SpA) |
Prof. DR. dr. H. Nukman Moeloek. SpAnd |
|
 |
| |
 |
| |
|
 |
|
|
 |
|