PROF. DR. SATYANEGARA, M.D:
Kamis, 28 Jan 2010 09:54:27
Pdpersi, Jakarta - PROF. DR. SATYANEGARA, M.D:
Kekuatan, modal mencapai cita-cita
1. Pendalaman Profesi
PROF. DR. SATYANEGARA, ahli bedah saraf Indonesia lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Tokyo, dikenal sebagai pribadi yang tekun dan enerjik. Penilaian ini pun tersari dari motto kerjanya, “waktu bukan penentu berhasilnya pekerjaan. Sedangkan dalam bekerja, energy harus dibakar semaksimal mungkin”.
Lebih jelas lagi dicontohkannya, “kalau sedang melakukan operasi, saya mempunyai misi untuk menyembuhkan pasien. Hasil kerja merupakan tanggung jawab saya. Dan agar hasilnya memuaskan, saya harus melakukannya semaksimal mungkin”.
Karena pekerjaan bedah saraf menyangkut masa depan dan nyawa seseorang, maka dalam melakukan pembedahan harus dijalankan secara hati-hati. “kalau saya mau melakukan operasi, saya harus melihat situasi dan kondisi pasien dulu. Karena ini tidak ubahnya dengan diri saya ketika sakit. Dengan cara ini kita dapat melakukannya dengan sempurna”.
Hikmah dari ketekunan membuat Satyanegara menjadi ahli bedah saraf kelima di Indonesia setelah Prof. Suwaji, Prof. Handoyo, Prof. Iskarno, dan Prof. Patmo. Tahun 1972 dipercayakan menjabat Kepala Bagian Bedah Saraf Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), praktik pada bagian bedah saraf pada Universitas Northwest, Chicago (1975), bagian bedah saraf di Universitas Harvard, Boston (1980), guru besar luar biasa Universitas Padjadjaran, bandung, 1992. Berkat reputasinya, tahun 1989 Pertamina mempercayakan dirinya menjabat Kepala RSPP.
Dalam organisasi profesi, Satyanegara pun turut berkiprah. Hingga saat ini ia menjadi anggota Ikatan Ahli Bedah Saraf Indonesia (IKABSI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), ASEAN Neurosurgical Society, Japanese Neurological Surgery Association, World Federation of Neurosurgeons, dan The Academia Eurasiana Neurochirurgica.
2. Dokter Boleh Jadi Politisi
Satu hal yang patut dibanggakan Satyanegara, hingga saat ini Indonesia telah memiliki 38 ahli bedah saraf, dengan pembenahan lebih dari 4000 kali. Sedangkan bagi Satyanegara sendiri, “rupanya tuhan masih memberikan berkah pada saya. Karena hingga saat ini pasien saya belum ada yang meninggal saat operasi”.
Bagi Satyanegara, otak merupakan salah satu komponen utama yang amat penting. Segala perasaan dan perintah pancaindera, ditentukan oleh otak sebagai pusatnya. “Jadi,” tambahnya, “kalau ada sesuatu yang mengganggu otak, seperti virus, maka harus dirawat di bagian neurologi (saraf)”.
Benda berharga yang berbentuk seperti tahu ini amat sensitive terhadap benda asing. Benda itu dapat berupa daging tumbuh atau yang disebut tumor, darah beku (mati) akibat kecelakaan. Atau karena adanya cairan yang menggumpal di dalam. Pada saat itu pembuluh darah banyak yang pecah. Dampaknya akan mengakibatkan kematian.
Satyanegara mengasosiasiakan otak dengan pancaindra lain. “Jika tangan dan kaki terkena benda asing yang mengkibatkan kelumpuhan. Upaya yang dilakukan adalah dengan cara mengangkat benda asing itu. Demikian juga dengan otak. Jika terganggu, benda asing itu harus diangkat, agar kelak dapat berfungsi kembali.
Profesi bagi seorang ilmuwan maupun praktisi itu amat penting. Saat ini profesi mulai dihargai masyarakat. Meski demikian, selain sebagai profeional seseorang pun dapat melakukan aktivitas lain, seperti menjadi politisi.
Satyanegara menilai bahwa pekerjaan politisi adalah “orang yang mengelola satu negara atau masyarakat dimana kita tinggal. Tentu, dia akan melakukan sesuatu untuk memperbaiki nasib kita”.
Bagi dokter pengagum Ptih Gajah Mada ini, mengidealkan bahwa politisi adalah sebuah profesi yang paling sulit sekaligus paling baik. Seperti halnya dokter, “seorang politisi harus bertanggung-jawab untuk menentukan nasib banyak orang”.
Lantas, bagaimana tanggapannya terhadap dokter yang terjun di dunia politik? Sebagai insan yang mempunyai pandangan hidup ia “tidak mau mengganggu orang lain”. Ia menilai bahwa pandangan hidup ia “tidak mau mengganggu orang lain”. Ia menilai bahwa hal itu wajar-wajar saja, tidak jadi masalah. “ Kalau dia mampu, mengapa tidak? Kan, untuk jadi seorang politisi tidak harus ditentukan dari latar belakang ilmu politik dan ekonomi saja. Bagi saya, semua itu bisa saja terjadi. Asalkan dia mampu, dipercaya orang, dan bertanggung – jawab”.
“Lain hal kalau seorang mempolitisir profesinya untuk tujuan tidak baik. Itu tidak boleh”. Dan karena kita masih dianggap sebagai Negara berkembang. Sementara dalam bidang kedokteran pun masih banyak yang harus dikembangkan ke bidang ilmunya, kalau bisa disempurnakan dan dikembangkan terus”.
3. Belajardi Jepang
Sejak restorasi Meiji, Jepang telah menjadi Negara yang maju. Bukan saja bidang militer, tetapi juga teknologi dan ilmu pengetahuannya. Di sisi lain semangat kebangsaan di Hindia Belanda memuncak pada akhir 1930-an, sebagai rasa tidak suka terhadap penjajahan. Pada masa itu pulalah, tepatnya tanggal 1 Desember 1938, di Kudus (Jawa Tengah), lahir bayi laki-laki. Anak pertama itu kelak deberinama Satyanegara.
Ketika pemerintah pendudukan militer Jepang menguasai Indonesia tahun 1942, Satyanegara menikmati masa kecilnya di Welahan. Kemudian pindah ke Semarang, dalam memorinya masih terekam beberapa peristiwa masa itu yang masih diingat sampai sekarang. Sering kali Satyanegara mendengar bunyi sirene tentara Jepang. Tanpa tahu maksudnya, saat itu Satyanegara ikut sembunyi di goa perlindungan bawah tanah (jin-chi). Kelak ia mengetahui, saat serene berbunyi, penduduk mematikan lampu dan sembunyi , untuk menghindari sasaran peluru yang terbang atau bom.
Ibunya berasal dari negeri Cina, dan berwatak keras. Sedangkan ayahnya dari Semarang, dan berwatak lembut. Meski kedua watak ini menyatu dalam diri Satyanegara, tetapi pengeruh ibunya terasa lebih dominan.
Disamping sebagai ibu rumah tangga, ibu Satyanegara juga bekerja sebagai guru kesenian (menyanyi). Ketika sekolah di Sekolah Rakyat Semarang pada masa perang kemerdekaan, Satyanegara pun mendapat pelajaran menyenyi dari ibunya.
Bakat turunan menyanyi dari sang ibu, sebenarnya telah merasuk dalam diri Satyanegara. Tetapi karena ibunya menginginkannya menjadi seorang dokter atau insinyur, bakat terpendam itu kandas di tengah jalan. Salah satu cara agar Satyanegara tidak menyukai nyanyi, ibunya memberi nilai rendah untuk pelajaran menyanyi. Akibat boikot ibunya itu, Satyanegara sempat shock dan tidak bisa menyanyi lagi.
Sadar bakat menyanyinya diredam, ketika tahun 1952-1955 saat bersekolah di SMP Semarang, Satyanegara berkelit mencari bentuk jati dirinya. Masa-masa ini membuatnya menyukai tulis-menulis (mengarang). Ketika tulisannya diserahkan ibunya, ibunya tercengang, “saya tidak percaya kalau ini hasil tulisanmu. Ini pasti bantuan orang lain”. Satyanegara mengakui bahwa ungkapan ibunya itu sempat mematahkan semangatnya, “seolah-olah harga dirinya diremehkan”, tambahnya.
Sikap ibunya yang keras membuat Satyanegara mencoba mengikuti kemauan ibunya. Ketika kelas dua di SMA Surabaya, ibunya memperingatkan, “ kalau mau jadi orang, ya, seperti ini!”, kata ibunya sambil menunjuk ke arah foto dokter Yen (yang bertugas di sumber waras) yang pada saat itu berdinas di RS. Umum Semarang.
Dalam beberapa kesempatan, sang ibu yang mempunyai semangat rantau orang-orang Taipan, selalu mendorong anaknya ini agar merantau. “ Kalau mau jadi orang, kamu harus merantau, dan harus pisah dari orang tua. Semua ini agar kamu tidak manja. Apalagi laki-laki”. Bagi Satyanegara, ungkapan ini dianggapnya sebagai “cambuk” untuk maju.
Ingat akan pesan ibunya, Satyanegara coba-coba datang ke Kantor Konsulat Jepang di Surabaya. Kebetulan kantor itu dekat dengan SMA-nya. Di sana ia bertemu dengan Konsul Jendral, Mr. Masui, yang baru saja menyelesaikan tugas belajar bahasa Indonesia di UGM.
Melalui Masui inilah, Satyanegara dapat belajar bahasa Jepang. Minatnya akan negeri Jepang makin menguat ketika Masui memijamkan beberapa buku dan majalah Jepang. Dari sana dia memperoleh informasi tentang kemajuan Jepang.
Hubungan Satyanegara-Masui cukup akrab. Ketika Satyanegara tamat SMA, Masui melihat rapotnya. “Kalau kamu mau, masuk mungkin dapat diterima di fakultas kedokteran,” usul Masui setelah melihat nilai ilmu eksaktanya tinggi.
Ketika Masui ditugaskan di bagian Penerangan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Satyanegara yang mampu membaca peluang, mencoba menghubungi Masui kembali. Tentunya Masui menyambutnya. Setelah diutarakan niatnya untuk belajar ke Jepang, Masui yang melihat kecerdasan Satyanegara membantu segala persiapan administrasi untuk ke Jepang.
Mengingat uang hasil penjualan piano kesayangan ibunya tidak mencukupi untuk naik pesawat, akhirnya Satyanegara berangkat dari Semarang dengan menggunakan kapal laut “Cicalengka”. Saat itu tanggal 19 Oktober 1958.
Sebelum berangkat, ayahnya memesan “kalau kamu tidak jadi dokter, jangan bertemu saya lagi.” Dan ketika naik ke kapal, Satyanegara tidak melihat ibunya lagi. “Mungkin ibu tidak tahan menyaksikan kepergian saya,” kenangnya.
Setibanya di Tokyo tanggal 6 Desember 1958, Satyanegara tinggal di asrama dan memperlancar belajar Bahasa Jepang. Sedangkan untuk membiayai hidup, ia bekerja sebagai peterjemah di kantor Kedutaan Besar RI di Tokyo. Waktu itu ia tergolong Pak Ramli dari KBRI.
Setelah 6 bulan tinggal di asrama dan 1 tahun memperlancar bahasa Jepang, tahun 1960, Satyanegara kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kyushu, di Kota Furooka. Satyanegara menyelesaikan pendidikan Universitas pada tahun 1966. Tahun berikutnya Satyanegara menyelesaikan pendidikan Umum rasa gembira dan bangga, Masui mengusahakan beasiswa untuk Satyanegara. Benar, Satyanegara dapat beasiswa, sehingga hidup yang biasanya pas-pasan, saat itu jadi lebih baik.
Setelah menyelesaikan kuliah pada tahun 1966, Satyanegara mempersunting gadis Jepang, Yoko Tsuji, yang kelak menjadi pendamping setianya.
Meski Satyanegara mempu menyelesaikan sarjananya, rasa tidak puas akan ilmu yang dimilikinya membuatnya mencoba mengambil program dokter. Untuk itu Satyanegara melanjutkan ke Universitas Tokyo, dengan spesialisasi Bedah Saraf. Pilihan Bedah Saraf diinspirasikan oleh film “Dr. Ben Casey”.
Kegembiraan bukan saja dialami Satyanegara, tetapi juga kedua orang tua dan keluarganya di Indonesia. Komunikasi dengan ibunya via surat berjalan terus. Mengingat kesibukan Satyanegara, sampai akhirnya sang ibu harus pergi menjenguknya ke Jepang ketika Yoko Tsuji melahirkan putra pertamanya, utama Satyanegara, yang lahir tahun 1967. Kedatangan ibu yang tidak didampingi ayah membuat Satyanegara rindu akan ayahnya. Pesan terakhir ayahnya ketika hendak berangkat ke Jepang tetap diingatnya. Itu sebabnya, ketika lahir putra kedua, Dharma Satyanegara, tahun 1971 Satyanegara pulang ke Indonesia, terutama untuk menemui ayahnya setelah 13 tahun ia hidup diperantauan.
Setelah menyelesaikan spesialisasi Bedah Saraf dan sekaligus menyelesaikan program Doktor (S3). Dengan disertai berjudul “Immunological Study of Brian Tumor,” Satyanegara dan keluarga kembali ke Indonesia pada tahun 1972. Selanjutnya ia bekerja di Rumah Sakit Pusat Pertamina.
4. MENGABDI BANGSA DAN NEGARA
Setibanya di Indonesia, Satyanegara cukup gembira. Ternyata penanganan Bedah Saraf di negeri ini sudah cukup tinggi. Para ahli bedah sarafnya talah mempu melakukan operasi tumor otak. Operasi terhadap sumsum tulang belakang pun sudah dilakukan.
Kemampuan terampil para ahli badah saraf di Indonesia dianggapnya sudah bagus. Tinggal masalahnya sekarang adalah “bagaimana kita bisa lebih meningkatkan hasil agar lebih optimal”.
Sampai saat sakerang para ahli bedah saraf telah didukung oleh teknologi yang makin canggih, sehingga lebih mudah membantu dalam melakukan operasi. Meski demikian Satyanegara tetap belum puas. Secara pribadi, “ saya tidak pernah merasa ikut-ikutan saja. Saya harus melakukan sesuatu yang lebih baik dari orang lain”.
Ahli bedah saraf yang belajar di luar negeri dan mengabdikan ilmunya untuk Republik ini, tiap hari berangkat ke tempat tugas jam 07.00, sampai dengan jam 16.00. mulai pukul 17.00-21.00 ia membuka praktik pribadi. Berkat jasanya terhadap bangsa tahun 1989 Satyanegara mendapat penghargaan dari Mendikbud selaku Ketua Umum Badan Pengurus, Yayasan Buku Utama atas karya tulisan berjudul Suasana Sekitar Bedah Saraf, yang diterbitkan Inti Idayu Press, 1987. Satyanegara sebelumnya telah menulis 3 buku mengenai ilmu Bedah Saraf. Satu tahun kemudian, 1990, ia pun mendapat Piagam Tanda Kehormatan “Satyalencana Pembangunan” dari Presiden Soeharto.
Kecuali menyanyi, Satyanegara yang mempunyai hobby olah raga Badminton, mengisi waktu senggangnya untuk berkumpul dengan keluarga, mengoleksi patung dan keris. Sementara hobby menulis tetap mendapat porsi.
|
|