Cakrawala

Berita Terbaru

Riset di RS Temukan Resistensi Antimikroba

Thursday 30 October 2014
Riset di beberapa rumah sakit (RS) di  Surabaya dan Semarang menunjukkan adanya resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance. Resistensi antimikroba merupakan masalah serius di dunia, termasuk Indonesia.

Inilah Nama Anggota Badan Pengawas Rumah Sakit 2014-2019

Thursday 30 October 2014
Inilah nama-nama anggota Badan Pengawas Rumah Sakit (BPRS) yang akan bertugas pada 2014 hingga 2019 Slamet Riyadi Yuwono, mantan Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA, Kementerian Kesehatan, Daeng M Faqih dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Tien Gartinah mewakili Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Soemaryono Rahardjo

Empat RS Awal Bros Raih Akreditasi JCI

Thursday 30 October 2014
Empat dari delapan rumah sakit (RS) yang tergabung dalam Awal Bros Hospital Group meraih akreditasi internasional dari Joint Commission International (JCI) yaitu yang berlokasi di Batam, Bekasi, Pekanbaru dan Tangerang.
01/02/2012 02:45:49 PM

Atasi Kesenjangan Layanan Kesehatan di Daerah Terpencil dengan Kader

Jakarta - Pendekatan kesehatan berbasis masyarakat menggunakan kader dinilai akan dapat mengisi kesenjangan terhadap akses layanan kesehatan yang masih sangat sulit terutama di daerah terpencil.

Spesialis Gizi dan Perawatan Anak dari Lembaga Swadaya Masyarakat World Vision dr Sigit Sulistyo MPH menjelaskan, keberadaan kader kesehatan di daerah terpencil akan mampu mencegah kematian balita akibat penyakit yang bisa dicegah dengan pengobatan, seperti pneumonia dan diare yang banyak diderita anak-anak di Papua.

"Tapi intervensi berbasis masyarakat itu hanya bisa dilakukan untuk pencegahan angka kematian anak. Untuk kematian ibu melahirkan tidak bisa dilakukan dengan intervensi berbasis masyarakat, harus dengan intervensi berbasis klinis," ujar dr Sigit di Jakarta, kemarin.

Selain pemberian obat, peningkatan sanitasi lingkungan juga dinilai mampu mengurangi kematian anak terutama yang disebabkan oleh diare.  Perbaikan sanitasi terbukti bisa menurunkan hingga 94 persen kasus diare.

Menurut Sigit, pneumonia di daerah terpencil seharusnya dapat dicegah dengan pemberian antibiotik yang di Jakarta dapat dibeli di apotik seharga Rp 3.000. Di Papua, penyakit peneumonia menjadi penyebab kematian balita yang cukup besar.

“Kondisi di Papua yang sangat luas dengan penduduk yang terpencar telah membuat akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan atau tenaga kesehatan sangat sulit sehingga keberadaan kader kesehatan dinilai akan mampu mengisi kekosongan layanan kesehatan tersebut,” papar dia.

Sigit menjelaskan, dari pendampingan yang dilakukan World Vision di Kabupaten Jayawijaya, Papua, didapatkan statistik bahwa jumlah anak menderita pneumonia yang mendapatkan pengobatan antibiotik hanya 16,7 persen dan anak menderita diare yang mendapatkan pertolongan oralit dan tablet zinc hanya 0,3 persen.

“Situasi geografis yang sulit juga menyebabkan hanya sekitar 50 persen orang tua membawa anaknya mencari pengobatan di luar rumah mereka bagi anak yang menderita pneumonia. Jumlah itu lebih kecil lagi bagi yang menderita diare, yaitu hanya sekitar 16,2 persen,” papar dr Sigit.

Dia menambahkan, kondisi itu diperparah dengan kurangnya jumlah tenaga kesehatan atau hanya 29,8 persen tenaga kesehatan yang dapat dijumpai sedang berada di fasilitas kesehatan, seperti Puskesmas. Sedangkan lebih dari 90 persen transportasi dilakukan dengan berjalan kaki, sehingga sulit untuk meminta pertolongan tenaga kesehatan.

Untuk mengatasi permasalah tersebut, kader kesehatan dapat dilatih mengenali anak yang menderita pneumonia serta pengobatannya, sehingga mereka bisa memberikan bantuan pengobatan yang diperlukan, tanpa kehadiran tenaga kesehatan.

“Tapi kader-kader yang direkrut dari penduduk setempat itu juga harus berada di bawah pengawasan tenaga kesehatan yang kompeten, seperti dokter atau bidan untuk menjamin ketepatan pengobatan,” papar dia.

Setelah mendapat pelatihan, kader tersebut akan dapat memilih dan memberikan dosis obat yang tepat, menasehati orang tua untuk mengikuti petunjuk penggunaan obat, memantau anak yang sakit dan merujuk ke fasilitas kesehatan jika diperlukan.

World Vision sejak akhir 2010 telah melakukan pelatihan kader kesehatan di 15 desa di lima kecamatan di Papua yang meliputi 628 balita untuk diawasi. Pelatihan kader telah mampu menghindari kematian balita akibat penyakit yang dapat dihindari. (IZN - pdpersi.co.id)