Let’s Talk With PERSI Kupas Program Eksekutif Muda Rumah Sakit Indonesia (EMRI)

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menyelenggarakan Let’s Talk With PERSI seri ke-5 bertema Eksekutif Muda Rumah Sakit Indonesia (EMRI): Membina Generasi Muda Rumah Sakit Menuju Era Global!”

Kegiatan dilaksanakan melalui Zoom serta YouTube PERSI Pusat, hari ini Jumat, 9 Januari 2026. Acara dihadiri para Direktur, pimpinan, manajemen, dan staf rumah sakit.

Program EMRI merupakan inisiatif PERSI yang juga merupakan anggota organisasi International Hospital Federation (IHF). Salah satu program IHF yaitu Young Executive Leader (YEL). Program itu kemudian diadaptasi oleh PERSI dalam kegiatan EMRI. Program EMRI dilaksanakan selama 6 bulan, dengan pertemuan satu kali seminggu.

Narasumber yang dihadirkan di antaranya dr. Mega Febrianora, SpJP(K), FIHA., FAPSC., CRFC yang merupakan alumni program YEL IHF 2022. dr. Mega merupakan dokter jantung yang bertugas di RS Medistra, RS Bunda Jakarta, RS Hermina Ciputat, serta Direktur Ngasta Inc.

“Saya memang mencari program kepemimpinan di dunia layanan medis, sehingga menemukan program YEL di IHF, dan ternyata kegiatan ini didukung oleh PERSI,” kata dr. Mega.

dr. Mega memaparkan ia sempat terlibat dalam pengembangan Bali International Hospital yang merupakan salah satu proyek pengembangan wisata medis yang digagas Kementerian kesehatan.

“Ketika dibandingkan dengan wisata medis global, yang menjadi tantangan Indonesia adalah ekosistem. Di negara dengan wisata medis yang sudah maju, sifatnya one stop system, mereka juga sangat fokus membentuk sistem SDM. Ini bisa kita lihat di Singapura dan Penang, Malaysia. Padahal SDM juga peralatan yang ada di rumah sakit di Indonesia sudah sangat bersaing,” kata dr.Mega.

Kondisi itu tentunya berkorelasi dengan EMRI yang akan mendukung generasi muda pimpinan RS melakukan penyempurnaan sistem, alur pelayanan pasien, serta memastikan pelayanan bersifat menyeluruh.

dr. Mega menekankan, salah satu aspek pengembangan rumah sakit yang perlu mendapat perhatian dari pimpinan rumah sakit, termasuk para calon pemimpin, di antaranya bisa mengacu pada negara dengan praktik-praktik terbaik.

“Bali International Hospital sempat mengirim tim diagnostik ke Singapura, untuk memastikan teknik pengambilan ronsen, agar tidak salah. Itu salah satunya, pimpinan rumah sakit memang harus membangun ekosistem, serta kerja tim.”

Bagi kalangan rumah sakit, terutama generasi muda, dr. Mega juga menyatakan komitmen untuk selalu melakukan inovasi, akan mempertemukan dengan institusi yang mendukung. “Untuk itu, teruslah berinovasi. Karena ternyata isu tentang pimpinan muda di rumah sakit juga terjadi di negara-negara lain, ini berdasarkan pengalaman dalam program YEL IHF,” kata dr.Mega.

Berbicara pula dr. Sonny Adi Wijaya, M.Kes, FISQua, CHCS, CHSE yang merupakan peserta terbaik EMRI Angkatan 1 yang juga Quality & Risk Manager Mandaya Hospital Group. “Pimpinan rumah sakit tempat saya bekerja sangat mendukung pengembangan bagi sumber daya manusia. Saya sangat banyak belajar dari web dan YouTube PERSI. Saya kemudian mendapat tawaran dari direktur rumah sakit untuk mengikuti program ini,” kata dr. Sonny.

dr. Sonny mengungkapkan, seperti juga peserta EMRI lainnya, ia sudah harus menyiapkan materi saat mulai mempelajari topik tertentu sehingga setiap topik menjadi relevan dengan situasi kerja yang dihadapi. Selain itu, ia juga mendapatkan kesempatan belajar dari 8 pembicara tamu dari berbagai negara. Pengalaman yang sangat berharga juga didapat dari kunjungan ke rumah sakit untuk belajar praktik terbaik dari RS Mandaya Puri Tangerang, RS Hasan Sadikin Bandung, serta RS An Nisa Tangerang.

“Memang sejumlah pembelajaran dari EMRI, telah kami praktikan di Mandaya saat saya juga ditantang oleh manajamen untuk mengelola fasilitas unggulan,” kata dr. Sonny.

Senada dengan para pembicara, Wakil Ketua I PERSI dr. R. Koesmedi Priharto, Sp.OT, M.Kes sebagai moderator menyatakan generasi muda pemimpin rumah sakit, termasuk peserta EMRI, berpotensi untuk mendukung penguatan rumah sakit Indonesia, termasuk mengembangkan wisata medis dan bersaing di tingkat global.

“Karena berdasarkan pengalaman saya sebagai klinisi dan juga sempat menjadi manajemen rumah sakit, India dengan pelayanan tulangnya kini menjadi pilihan bagi pasien-pasien di negara maju karena keunggulan tarif dan kemampuan medisnya. Sementara, di negara asalnya pasien-pasien itu harus mengantre,” kata dr. Koesmedi.

Sementara, Ketua Kompartemen Hubungan antar Lembaga PERSI Pusat, Board Member IHF, sekaligus penggagas EMRI DR. dr. H Hanny Rono SpOG(K), MM, MPM, MQM, CHMed, FISQua menyatakan angkatan dua EMRI akan segera dibuka. “EMRI ini juga menjadi wadah yang akan terus mempertemukan generasi muda pemimpin rumah sakit, berdiskusi, dan saling berbagi pengalaman pengembangan rumah sakit.” (IZn – persi.or.id)