Yayasan Stroke Indonesia Serahkan Penghargaan RS Ramah Stroke pada 7 RS

Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), menyatakan jumlah korban dan kerugian akibat kejadian stroke dari tahun ke tahun terus meningkat. Sehingga dibutuhkan kebijakan politik berupa aturan yang memastikan rumah sakit mengoptimalkan fasilitas pertolongan, pengobatan dan penanggulangan pada kasus stroke.

“Komitmen Yastroki sejak awal berdiri hingga ke depan terus meningkatkan kepedulian berbagai elemen masyarakat melalui kolaborasi demi pencegahan, penanggulangan serta pemulihan penderita,” kata Ketua Umum Yastroki Mayjen (Purn). Dr. dr. Tugas Ratmono, SpS, dalam peringatan HUT ke-37 Yastroki di Prodia Tower, Jl. Kramat Raya, Jakarta, awal pekan ini.

Yastroki dalam kesempatan itu memberikan sertifikat penghargaan kepada pimpinan rumah sakit (RS) yang dinilai memiliki pelayanan ramah stroke dalam bentuk pertolongan, pengobatan dan pemulihan secara memadai bagi penyintas. Penghargaan itu diberikan pada RSPAD Gatot Subroto, RSCM, RS PON, RS Islam Cempaka Putih, RS Primaya Bekasi Timur, RS Mandaya Kebon Jeruk, dan RSUD Pasar Minggu, Jaksel.

“Stroke bisa disebut bencana kemanusiaan yang menelan banyak korban jiwa dan harta. Selain berkolaborasi dengan RS, kami juga akan terus merealisasikan program pembagian bantuan 1000 kursi roda, menggerakkan aktivis dalam kampanye pencegahan dan pertolongan. Targetnya bisa menyasar sejuta orang pada lingkungan RT/RW pedesaan serta perkotaan se-Indonesia,” kata Dr. Tugas.

Dr. Tugas menyatakan pihaknya juga mengupayakan mendirikan cabang-cabang Yastroki di berbagai daerah demi mewujudkan Indonesia ramah stroke. Persentase penderita dari jumlah penduduk pada 2013 sebanyak 7 persen per 1000 jiwa, naik menjadi 10,9% pada 2018 dan terus bertambah dari tahun ke tahun.

“Bagi masyarakat, kami imbau agar menerapkan CERDIK guna mencegah bencana stroke. Kepanjangannya, C – cek kesehatan rutin. E – enyahkan asap rokok, R – rajin aktivitas fisik, D-diet seimbang, I – istirahat cukup dan K – kelola stres,” kata Dr. Tugas.

Dr. Tugas menekankan, kasus stroke di Indonesia yang terus meningkat sangat membebani perekonomian. BPJS Kesehatan pada 2022 menghabiskan sekitar Rp 2,8 triliun. Menyusul, rentang waktu tahun 2023 naik drastis hingga mencapai Rp 5,2 triliun.

“Jumlah sebanyak itu di luar beban ekonomi bagi rumah tangga yang anggota keluarganya korban stroke. Selain tidak produktif juga butuh biaya perawatan sehari-hari.” (IZn – persi.or.id)