PERSI: RS Siap Kawal Libur Lebaran 2026, Antisipasi Insiden Kecelakaan, Posko Mudik Wajib Komunikasi Intens dengan RS

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menyatakan kalangan rumah sakit siaga memberikan layanan kesehatan secara optimal selama periode libur Lebaran 2026. Rumah sakit dipastikan tetap beroperasi 24 jam sehari, tanpa jeda libur, guna menjamin masyarakat tetap memperoleh layanan kesehatan yang dibutuhkan.

Ketua Umum PERSI dr. Bambang Wibowo, Sp.O.G, Subsp. K.Fm, MARS, FISQua menyatakan pihaknya telah menerbitkan surat edaran kepada seluruh rumah sakit anggota di Indonesia. Saat ini PERSI beranggotakan 2.899 rumah sakit dan menaungi 18 asosasi rumah sakit.

“Surat tersebut berisi instruksi agar manajemen rumah sakit mempersiapkan berbagai aspek layanan menjelang masa libur panjang Lebaran. Kesiapan meliputi pengelolaan tenaga medis, ketersediaan logistik kesehatan, serta pengecekan fasilitas penunjang layanan rumah sakit,” kata dr. Bambang dalam konferensi pers bersama BPJS Kesehatan, di Jakarta, Senin, 9 Maret 2026).

dr. Bambang menjelaskan, agar pelayanan berjalan lancar selama periode Lebaran, manajemen rumah sakit harus menyiapkan tiga aspek. Pertama, mengatur jadwal dokter jaga dan tenaga kesehatan secara optimal, sehingga layanan tetap berjalan meskipun sebagian staf mengambil cuti Lebaran.

Kedua, memastikan rantai pasok logistik kesehatan, termasuk ketersediaan obat-obatan di instalasi farmasi serta perlengkapan medis lainnya.

Ketiga, melakukan pengecekan fasilitas vital, seperti generator listrik (genset), alat pemadam kebakaran, hingga kesiapan menghadapi kondisi darurat atau potensi bencana.

dr. Bambang juga menegaskan, kendati sebagian klinik rawat jalan tutup saat libur nasional, layanan kesehatan yang bersifat darurat dan krusial tetap berjalan. “Layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) serta unit hemodialisis atau cuci darah dipastikan tetap beroperasi untuk melayani pasien yang membutuhkan penanganan segera maupun terapi rutin. Menjelang meningkatnya mobilitas masyarakat saat arus mudik, kami juga menekankan pentingnya sinergi antara rumah sakit dengan posko kesehatan di jalur mudik, termasuk yang disiapkan oleh BPJS Kesehatan.”

Komunikasi yang optimal antara posko kesehatan dan rumah sakit rujukan sangat penting untuk mempercepat penanganan pasien, terutama inisiden kecelakaan di jalur mudik yang harus diantisipasi. “Dengan begitu, saat ada rujukan dari posko, rumah sakit sudah siap menerima pasien. Komunikasi yang optimal ini diharapkan akan meminimalisir angka fatalitas kecelakaan selama masa mudik,” ujar dr. Bambang.

Persiapan kalangan rumah sakit itu, di antaranya dilakukan RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya yang menegaskan pihaknya telah bersiaga. Kepala Seksi Pelayanan Medik RSUD KHZ Musthafa, dr. Leni Mulyani, menjelaskan pihaknya berencana membuka satu poli khusus untuk melayani berbagai kasus dalam satu pintu. Berbagai keluhan penyakit akan dilayani, termasuk penyediaan obat-obatan yang tidak boleh berhenti dikonsumsi. Dengan begitu, pelayanan rawat jalan tidak akan berhenti total.

Semantara, di Kabupaten Sleman, DIY memastikan kesiapsiagaan diberlakukan di 7 RSUD wilayah itu selama periode 18 hingga 26 Maret 2026. Langkah ini diambil untuk menjamin masyarakat tetap mendapatkan akses pelayanan kesehatan meskipun berada dalam masa libur panjang. Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Bupati Sleman Nomor 0542 Tahun 2026 yang mengatur tentang kesiapan fasilitas kesehatan selama libur Lebaran. Dalam aturan itu disebutkan bahwa rumah sakit, puskesmas, hingga layanan darurat harus memastikan operasional tetap berjalan dengan dukungan tenaga medis memadai. (IZn – persi.or.id)