PT ISM PERSI bekerja sama dengan Ingram Micro Indonesia menyelenggarakan Hospital Forum bertopik Smart Hospital: Digital Foundation, Electronic Medical Records & Patient Data Protection di Jakarta, Rabu (14/10). Acara tersebut diikuti sedikitnya 60 peserta dari berbagai rumah sakit anggota Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) di Jabodetabek.

Wakil Ketua I Pengurus Pusat PERSI dr. R. Koesmedi Priharto, Sp.OT, M.Kes., yang membuka acara tersebut, menyatakan bahwa rumah sakit saat ini menghadapi tantangan digitalisasi, mulai dari implementasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), keamanan data pasien, hingga regulasi.
“Acara ini diselenggarakan PT ISM PERSI sebagai perusahaan yang bernaung di bawah PERSI, sebagai upaya untuk menguatkan rumah sakit dan menyediakan forum untuk berdiskusi dengan regulator, sesama rumah sakit, serta kalangan industri yang menyediakan solusi-solusi relevan,” kata dr. R. Koesmedi.

Sementara itu, Analis Kebutuhan Bisnis TI Muda Kedeputian Bidang Strategi dan Perencanaan Teknologi Informasi (SPPTI), Direktorat Teknologi Informasi BPJS Kesehatan, I Made Karistiawan, menegaskan adanya pemberlakuan regulasi terkait RME dan klaim.
“Mulai bulan pelayanan Juni 2027, seluruh rumah sakit ditargetkan sudah menggunakan rekam medis elektronik (RME) yang terintegrasi dengan SATUSEHAT sebagai dasar pengajuan klaim JKN,” kata I Made.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa uji coba telah berjalan di sejumlah rumah sakit sejak Agustus 2026. “Secara nasional, pada Juni 2027, seluruh rumah sakit yang menjadi mitra BPJS Kesehatan telah sepenuhnya mengimplementasikan RME.”

Ketua Tim Kerja Kesehatan Lanjutan dan Bioteknologi Pusat Data dan Teknologi Informasi, Haidar Istiqlal, dalam paparannya yang berjudul Keamanan dan Integrasi Data pada SATUSEHAT, menyatakan bahwa sistem pengajuan klaim satu pintu berbasis RME merupakan bentuk simplifikasi dan integrasi proses klaim yang mensyaratkan interoperabilitas data secara mulus (seamless) antarfasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) dan penjamin. Selain itu, sistem ini melibatkan standardisasi interoperabilitas data untuk menjamin keamanan pengiriman data antarsistem.
“Dampak yang diharapkan adalah transparansi, efisiensi, dan kendali mutu. Proses klaim menjadi lebih efisien, transparan, dan akuntabel. Jika dibandingkan sebelum dan sesudah integrasi, pasien yang sebelumnya wajib membawa kartu asuransi, menjalani proses pendaftaran dan discharge yang lama, serta menghadapi potensi biaya out-of-pocket yang besar, nantinya cukup menggunakan NIK untuk semua asuransi. Proses pendaftaran dan discharge juga menjadi lebih cepat,” kata Haidar.

Pada acara tersebut juga dipaparkan berbagai solusi teknologi melalui presentasi berjudul Building the Digital Foundation for Modern Hospitals, SMART HOSPITAL 360: Empowering Healthcare Through Digital Workflows, Secure Mobility, and Reliable Infrastructure, serta Protecting Patient Data for the Next 25 Years: Cyber-resilient Storage for EMR, Medical Imaging, and AI. Berbagai solusi tersebut ditawarkan melalui produk-produk Ingram Micro Indonesia, di antaranya Eaton, HPE, dan Trellix.
Solusi Eaton yang ditawarkan untuk rumah sakit mencakup sistem proteksi daya, manajemen energi, dan distribusi kelistrikan yang dirancang khusus untuk menjaga kontinuitas layanan medis dan keselamatan pasien. Sementara itu, HPE mengupas fondasi TI yang andal dan skalabel, sekaligus mendukung digitalisasi, seperti RME, integrasi data, analitik (analytics), hingga beban kerja AI di masa depan dalam lingkup rumah sakit.
Adapun Trellix, sebagai penyedia solusi keamanan siber, menawarkan perlindungan terhadap risiko ransomware, kebocoran data pasien, dan serangan terhadap sistem digital. Keamanan siber merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dari implementasi RME dan digitalisasi rumah sakit. (IZn – persi.or.id)



