Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menggelar Let’s Talk with PERSI Seri 7 bertajuk Eksekutif Muda Rumah Sakit Indonesia (EMRI): Terobosan Bagi Keberlanjutan Rumah Sakit pada Senin (13/7). Diskusi yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom dan disiarkan langsung di kanal YouTube PERSI Pusat ini menegaskan pentingnya menyiapkan pemimpin muda rumah sakit yang adaptif, inovatif, dan mampu menjawab tantangan transformasi layanan kesehatan.
Acara dipandu oleh Wakil Ketua I PERSI dr. R. Koesmedi Priharto, Sp.OT, M.Kes. sebagai moderator. Narasumber yang hadir yakni dr. Achmad Soebagio Tancarino, MARS dari Kompartemen Diklat dan SDM PERSI sekaligus pendamping program EMRI, dr. Mega Febrianora, SpJP(K), FIHA., FAPSC., CRFC, alumni Young Executive Leaders (YEL) International Hospital Federation (IHF), dr. H. Fathul Huda, SpN., MMRS., PhD, yang juga alumni YEL IHF, serta drg. Wenang Anindyadatta Lanisy, M.P.H., CFHCM., FISQua., peserta terbaik kedua angkatan pertama EMRI.
Dalam sambutannya, dr. Koesmedi mengatakan bahwa dunia perumahsakitan menghadapi perubahan yang sangat cepat akibat perkembangan teknologi, regulasi, dan tuntutan masyarakat. Menurutnya, rumah sakit membutuhkan regenerasi kepemimpinan yang mampu menghadapi tantangan tersebut.
Melalui EMRI, lanjut dr. Koesmedia, PERSI ingin membangun ruang belajar bagi para manajer muda rumah sakit agar mampu berkolaborasi, berinovasi, dan melanjutkan praktik-praktik terbaik yang telah dibangun para senior. “Program ini menjadi jembatan regenerasi kepemimpinan rumah sakit,” ujarnya.
Sementara itu, dr. Achmad Soebagio menjelaskan bahwa EMRI bukan sekadar program pelatihan, melainkan komunitas pembelajaran bagi calon pemimpin rumah sakit. Program ini ditujukan untuk mengembangkan talent pool rumah sakit sehingga tersedia kader-kader pemimpin yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan di masa depan.
dr. Achmad Soebagio menambahkan, setelah menyelesaikan program, peserta akan tetap terhubung dalam jejaring pembelajaran sehingga dapat terus berbagi pengalaman dan memperoleh kesempatan mengikuti program Young Executive Leaders yang diselenggarakan International Hospital Federation (IHF).
Pengalaman mengikuti program kepemimpinan internasional dibagikan oleh dr. Fathul Huda. Ia mengatakan, YEL IHF mempertemukan pemimpin rumah sakit dari berbagai negara untuk mempelajari tantangan bersama, mulai dari pengelolaan sumber daya manusia, transformasi digital, hingga keberlanjutan layanan kesehatan. Pengalaman tersebut menjadi inspirasi lahirnya EMRI di Indonesia sebagai wadah pengembangan kapasitas para manajer rumah sakit muda agar mampu memimpin organisasi di tengah perubahan yang semakin kompleks.
Hal senada disampaikan dr. Mega yang menilai program kepemimpinan memberikan perspektif baru bahwa rumah sakit tidak hanya berfokus pada layanan kuratif, tetapi juga harus memperkuat upaya promotif dan preventif. Menurutnya, pengembangan layanan pencegahan penyakit menjadi peluang besar yang perlu terus didorong dalam sistem pelayanan kesehatan Indonesia.
“Kalau kita hanya berbicara kuratif, persoalan kesehatan tidak akan pernah selesai. Rumah sakit perlu mulai membangun ekosistem layanan yang lebih kuat di bidang pencegahan penyakit,” ujarnya.
Sementara itu, drg. Wenang mengungkapkan bahwa keunggulan EMRI terletak pada pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman para praktisi senior, bukan sekadar teori. Menurutnya, peserta memperoleh wawasan nyata mengenai kepemimpinan, strategi bisnis rumah sakit, hingga solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan rumah sakit.
Ia mengaku pengalaman tersebut mendorong rumah sakit tempatnya bertugas mulai mengembangkan berbagai layanan non-BPJS, termasuk layanan wellness, sebagai strategi memperkuat keberlanjutan organisasi.
Diskusi juga menyoroti pentingnya inovasi pelayanan kesehatan melalui digitalisasi, penguatan jejaring layanan, telemedicine, hingga kolaborasi lintas sektor. Para narasumber sepakat bahwa rumah sakit masa depan membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memahami aspek klinis, tetapi juga mampu membangun inovasi, kemitraan, serta menciptakan model layanan yang lebih berorientasi pada kebutuhan masyarakat. (IZn – persi.or.id)



