PERSI dan Indosat Perkuat Transformasi Digital Rumah Sakit

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) melalui PT ISM PERSI berkolaborasi dengan PT Indosat Tbk mendorong transformasi digital di sektor rumah sakit. Kolaborasi tersebut diarahkan tidak hanya pada digitalisasi administrasi dan rekam medis, tetapi juga pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), Internet of Things (IoT), hingga pengelolaan fasilitas dan aset rumah sakit secara real time.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PT ISM PERSI dan PT Indosat Tbk serta penyelenggaraan seminar Dukungan Transformasi Digital Indosat bagi Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit” di Hotel Aryaduta Jakarta, Selasa (8/9). Kegiatan itu diikuti sedikitnya 20 rumah sakit pemerintah, TNI, dan POLRI.

Wakil Ketua 1 PERSI dr. R. Koesmedi Priharto, Sp.OT, M.Kes mengatakan perkembangan teknologi yang semakin pesat membuka peluang besar bagi rumah sakit untuk memperbaiki kualitas layanan sekaligus meningkatkan keamanan pengelolaan data.

“Dengan adanya kemajuan teknologi yang begitu pesat, semua layanan di rumah sakit bisa diperbaiki dan diberikan jaminan keamanan yang baik,” ujarnya.

Menurut Koesmedi, data menjadi salah satu aspek penting dalam pelayanan rumah sakit. Terlebih, ekosistem kesehatan Indonesia kini terus bergerak menuju integrasi data melalui platform Satu Sehat.

Namun, semakin besar volume data kesehatan yang dihimpun, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem keamanan dan tata kelola data yang kuat.

“Bagaimana caranya kita bisa menyelamatkan data itu dan menggunakannya sebagai suatu hal yang penting,” kata dia.

Ia menambahkan, transformasi digital rumah sakit juga perlu menyentuh berbagai aspek pelayanan dan operasional, tidak sebatas digitalisasi rekam medis. Teknologi, menurutnya, dapat digunakan untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi rumah sakit, termasuk akses pelayanan, efisiensi energi, hingga pengelolaan fasilitas.

Koesmedi berharap kolaborasi dengan Indosat dapat menghasilkan berbagai model solusi yang relevan dengan kebutuhan rumah sakit di Indonesia.

Dorong Kolaborasi Teknologi dan Rumah Sakit
Sementara itu, Direktur dan Chief Business Officer PT Indosat Tbk Muhammad Buldansyah mengatakan transformasi digital di sektor kesehatan membutuhkan kolaborasi erat antara penyedia teknologi dan rumah sakit.

Menurutnya, Indosat tidak berada pada posisi sebagai ahli kesehatan, tetapi memiliki infrastruktur, konektivitas, algoritma, dan berbagai perangkat teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi operasional rumah sakit. “Transformasi digital dan industri itu hanya bisa dilakukan kalau kita berkolaborasi,” ujarnya.

Ia mengatakan dukungan Indosat dapat mencakup berbagai kebutuhan rumah sakit, mulai dari infrastruktur dan konektivitas, digitalisasi dokumen, pengelolaan informasi, hingga pemanfaatan AI.

Salah satu peluang pemanfaatan AI adalah membantu tenaga medis memperoleh informasi dan pengetahuan secara lebih cepat. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu memperkecil kesenjangan pengetahuan antara tenaga kesehatan di daerah dan pusat.

“Bagaimana cara mendiagnosis yang baik, apa yang harus dilakukan, obatnya apa yang harus diberikan, itu bisa ditanyakan dan didiskusikan dengan AI,” jelasnya.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus memperhatikan konteks dan karakteristik kesehatan di Indonesia, termasuk penyakit tropis dan kebutuhan data lokal.

Satu Sehat Jadi Integrator Data Kesehatan
Dalam seminar tersebut, Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya integrasi dan standardisasi data kesehatan nasional.

Ketua Tim Kerja Kesehatan Lanjutan dan Bioteknologi Kementerian Kesehatan Haidar Istiqlal mengatakan, salah satu persoalan yang masih dihadapi ekosistem kesehatan adalah fragmentasi data. Data pasien masih tersebar di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan sehingga belum selalu dapat dimanfaatkan secara optimal.

Karena itu, diperlukan single source of truth yang dapat menghubungkan data kesehatan secara nasional. Satu Sehat diarahkan untuk memainkan peran tersebut.

Dengan integrasi data, riwayat pelayanan pasien dapat diketahui secara lebih utuh ketika pasien berpindah dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas lainnya. Hal itu diharapkan membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan secara lebih cepat dan akurat.

Namun, integrasi tidak cukup hanya dengan mengirimkan data. Kualitas dan standardisasi data menjadi tantangan penting yang harus diselesaikan.

“Bukan sekadar mengumpulkan data, tapi bagaimana data itu berkualitas,” ujar Haidar.

Ia menjelaskan, Satu Sehat ke depan tidak hanya menjadi tempat pertukaran data, tetapi juga dapat dimanfaatkan pemerintah untuk analisis, tenaga kesehatan untuk mendukung pelayanan, serta masyarakat untuk mengakses data kesehatannya melalui Satu Sehat Mobile.

Digitalisasi Rumah Sakit Tak Cukup dengan Rekam Medis
Pada sesi berikutnya, Vice President and Head of Industry Solution Indosat Sito Dewi Damayanti memaparkan bahwa ruang digitalisasi rumah sakit masih sangat luas.

Menurut dia, banyak rumah sakit telah menggunakan sistem antrean digital, rekam medis elektronik, dan sistem informasi manajemen rumah sakit. Namun, berbagai perangkat, aset, fasilitas, serta aspek keselamatan rumah sakit masih belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem pemantauan digital.

“Masih banyak hal di area rumah sakit yang belum terdigitalisasi,” ujarnya.

Indosat, lanjutnya, menawarkan solusi yang memungkinkan rumah sakit melakukan pemantauan secara real time terhadap berbagai aset dan fasilitas. Teknologi IoT, misalnya, dapat digunakan untuk memantau kondisi ruangan, perangkat medis, ketersediaan obat dan vaksin, hingga konsumsi energi.

Pemanfaatan teknologi juga dapat diperluas untuk aspek keamanan dan keselamatan pasien. Salah satunya melalui kombinasi CCTV berbasis AI dan wearable device untuk memantau kondisi pasien dari jarak jauh.

Sito mengatakan, teknologi juga memungkinkan rumah sakit bergerak dari pola responsif menjadi lebih preventif. Data yang dihimpun secara real time dapat dianalisis untuk membantu manajemen mengambil keputusan sebelum persoalan terjadi.

“Bagaimana kalau kita melakukan preventive, sebelum ada kejadian, tapi kita sudah melakukan sesuatu,” katanya.

Lebih jauh, Indosat juga memperkenalkan konsep digital twin yang memungkinkan rumah sakit membuat simulasi berbagai kondisi secara digital. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk menguji skenario, misalnya ketika terjadi gangguan listrik atau kondisi kritis lainnya di rumah sakit, tanpa harus menunggu kejadian nyata.

Solusi lain yang ditawarkan mencakup smart facility management, smart asset management, smart energy storage, konektivitas, cybersecurity, cloud, AI vision, cold chain monitoring, hingga layanan patient care jarak jauh.

Perlu Konsistensi Rumah Sakit
Dalam diskusi, persoalan konsistensi rumah sakit dalam melakukan integrasi data juga menjadi perhatian. Haidar mengatakan pemerintah terus mendorong rumah sakit untuk memenuhi ketentuan integrasi data dan rekam medis elektronik. Sanksi, menurutnya, merupakan opsi terakhir setelah berbagai bentuk peringatan dan pembinaan tidak dijalankan.

Ke depan, tantangan yang lebih penting adalah memastikan rumah sakit melihat manfaat langsung dari data yang telah diintegrasikan.

“Kita ingin meyakinkan rumah sakit bahwa data yang ada di RME itu akan dimanfaatkan untuk hal yang lebih luas,” ujarnya.

Dengan demikian, transformasi digital rumah sakit diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan regulasi, tetapi benar-benar menghasilkan peningkatan kualitas layanan, keselamatan pasien, efisiensi operasional, dan pengalaman pasien.

Kolaborasi PERSI dan Indosat diharapkan menjadi langkah awal untuk mengembangkan berbagai solusi digital yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan rumah sakit sekaligus memperkuat ekosistem kesehatan digital nasional.  (IZn – persi.or.id)